KomdigiMedia.com, Jakarta – Pemerintah India melaporkan potensi risiko penurunan target pertumbuhan ekonomi ke angka 7% hingga 7,4% untuk tahun fiskal mendatang yang dimulai pada 1 April 2026. Proyeksi ini terkoreksi akibat lonjakan biaya energi dan gangguan pasokan global yang dipicu oleh memanasnya konflik di Timur Tengah.
Konflik yang pecah sebulan lalu setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran telah mengacaukan jalur pelayaran utama dunia. Mengutip Reuters, Minggu (29/3/2026), jalur tersebut merupakan urat nadi bagi 20% pasokan minyak global.
Tinjauan pemerintah India menyebutkan bahwa situasi ini memicu lonjakan tajam pada biaya energi dan logistik yang berpotensi melumpuhkan rantai pasok. Kepala Penasihat Ekonomi India, V Anantha Nageswaran, menyatakan bahwa data ekonomi pada April dan Mei mendatang akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai prospek pertumbuhan ke depan.
“Situasi ini memicu dampak signifikan pada inflasi dan pertumbuhan ekonomi India,” ungkap tinjauan tersebut, (30/3).
Selain pertumbuhan ekonomi, Nageswaran juga mewanti-wanti terkait defisit anggaran negara yang diprediksi semakin melebar. Setelah sempat menyentuh level 1,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal IV-2025, angka defisit diperkirakan akan memburuk tahun ini.
Kondisi ekonomi India kian terhimpit seiring melemahnya mata uang rupee hingga ke level 95 per dolar AS pada Maret ini. Pelemah nilai tukar ini dipicu oleh besarnya modal asing yang keluar (capital outflow) serta terkurasnya cadangan devisa akibat melambungnya harga energi dunia. (Amel)


Leave a Reply