KomdigiMedia.com, Padang – Gelombang besar perantau Minangkabau mulai meninggalkan kampung halaman, Minggu (29/3/2026). Setelah sepekan melepas rindu, kepulangan mereka tidak hanya menyisakan kenangan, tetapi juga meninggalkan jejak ekonomi yang masif bagi Sumatera Barat (Sumbar).
Asisten Administrasi dan Umum Setdaprov Sumbar, Medi Iswandi, menyebut fenomena mudik sebagai booster ekonomi paling nyata. Pada Lebaran 2026 ini, diperkirakan 1,8 hingga 2 juta perantau pulang ke Ranah Minang dengan estimasi perputaran uang mencapai Rp6 triliun hingga Rp10 triliun.
“Angka ini sangat besar, bahkan melebihi APBD Provinsi Sumatera Barat. Ini adalah suntikan ekonomi yang bekerja tanpa desain kebijakan formal,” ujar Medi dalam keterangannya di Padang, (30/3).
Menurut Medi, tradisi mudik adalah instrumen ekonomi informal yang sangat efektif. Jika di perantauan mereka hidup dengan penuh perhitungan, maka saat menyentuh tanah kelahiran, logika “hati” mengambil alih. Uang yang dikumpulkan selama sebelas bulan dihabiskan hanya dalam hitungan hari di kampung halaman.
Aliran uang ini bergerak melalui berbagai lapisan:
- Sektor Formal: Lonjakan harga tiket pesawat, okupansi hotel yang penuh, hingga konsumsi bahan bakar yang meningkat tajam.
- Sektor UMKM & Pariwisata: Kuliner dan objek wisata yang menggeliat dipenuhi pengunjung.
- Ruang Domestik: Melalui tradisi “salam tempel”, manambang, dan bagi-bagi THR kepada sanak saudara di pelosok nagari.
“Ini adalah bentuk distribusi ekonomi paling murni di dunia. Tanpa prosedur, tanpa proposal, dan tanpa verifikasi berlapis. Uang bergerak karena hubungan darah dan rasa silaturahmi,” lanjutnya.
Uang yang dibawa perantau menciptakan efek ekonomi berlapis. Rupiah yang diterima orang tua atau saudara di kampung segera dibelanjakan kembali di warung tetangga atau pasar tradisional. Hal ini menghidupkan omzet pedagang kecil, petani, hingga nelayan setempat.
Fenomena ini membantu menjaga keseimbangan distribusi pendapatan di Sumatera Barat hingga ke lapisan masyarakat paling bawah tanpa memerlukan birokrasi yang rumit.
Bagi perantau, mudik bukan sekadar pemborosan, melainkan momen ketika nilai tidak lagi diukur dengan angka, melainkan dengan kebahagiaan yang dibagikan. Medi menekankan bahwa kehadiran perantau adalah denyut yang menghidupkan nagari.
“Terima kasih kepada para perantau atas setiap kilometer perjalanan dan setiap rupiah yang dibawa pulang. Kehadiran kalian bukan sekadar kunjungan, melainkan nyawa bagi ekonomi dan sosial kami,” pungkasnya. (Amel)


Leave a Reply