KomdigiMedia.com, Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan tetap stabil meskipun dunia sedang menghadapi gejolak krisis energi dan ketegangan geopolitik global. Ketangguhan ekonomi nasional ini terutama ditopang oleh kuatnya konsumsi domestik serta efektivitas stimulus fiskal dari pemerintah.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh lembaga internasional saat ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal, seperti kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.

“Risiko perlambatan tidak terlalu dalam karena konsumsi domestik dan stimulus fiskal tetap menjadi penopang utama. Ekonomi cenderung melambat secara moderat, bukan jatuh tajam,” ujar Nico dalam keterangannya di Jakarta, Senin (30/3/2026).

Kondisi pasar saat ini juga sangat dipengaruhi oleh supply shock akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai balasan atas ketegangan dengan AS-Israel. Jalur ini merupakan urat nadi pasokan minyak dunia yang memasok 20 persen kebutuhan global.

Analis ekonomi politik pasar saham, Kusfiardi, mengingatkan bahwa Indonesia memiliki titik lemah pada ketergantungan impor BBM. Setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi menambah beban subsidi energi dalam APBN hingga Rp10,3 triliun.

Menghadapi situasi ini, pelaku pasar disarankan untuk menerapkan strategi ultra-defensif melalui tiga langkah utama:

  • Selektivitas Sektor: Menghindari sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan biaya energi, seperti properti dan otomotif.
  • Fokus pada Likuiditas: Mengalihkan investasi ke saham perbankan besar (big caps) dan sektor telekomunikasi yang lebih tahan banting.
  • Instrumen Lindung Nilai: Mempertimbangkan aset aman seperti emas untuk melindungi nilai terhadap volatilitas nilai tukar.

Meskipun fundamental ekonomi tetap terjaga di kisaran 5 persen, stabilitas ke depan akan sangat bergantung pada diplomasi internasional di Selat Hormuz serta kebijakan fiskal pemerintah dalam mengelola lonjakan harga energi. (Amel)

Baca juga :  Sektor Pariwisata Terancam Konflik Global, Menko Airlangga Dorong Reformasi Strategis