KomdigiMedia.com, China – Jurang perbedaan teknologi atau technology gap antara negara maju dan berkembang menjadi perhatian serius bagi mahasiswa asal Indonesia di China, Muhammad Apri Yansyah. Menempuh studi di negeri tirai bambu selama delapan tahun, Apri kini memantapkan visinya untuk menjadi jembatan penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM) bagi industri di tanah air.
“Keinginan terbesar saya setelah lulus S2 adalah menjembatani kesenjangan. Saya ingin membawa keahlian teknis STEM yang diperoleh di China untuk diterapkan langsung di industri Indonesia,” ujar Apri saat ditemui di Changsha, Provinsi Hunan, Rabu (11/3).
Saat ini, Apri tengah merampungkan program Magister Teknik Metalurgi di Central South University (CSU). Kampus ini bukan sembarang tempat belajar; CSU merupakan rujukan global bagi teknologi metalurgi, teknik transportasi rel, dan kedokteran.
Menurutnya, fasilitas laboratorium yang lengkap dan hubungan erat antara pihak universitas dengan perusahaan raksasa China membuat kurikulum yang ia pelajari sangat relevan dengan kebutuhan industri global. Hal ini sangat krusial, mengingat banyak proyek strategis nasional di Indonesia saat ini mengadopsi teknologi asal China.
Namun, perjalanan menimba ilmu di China tidaklah mudah. Apri mengungkapkan bahwa lingkungan akademik di sana sangat kompetitif dengan ritme yang cepat. Tantangan bahasa menjadi salah satu hambatan utama, terutama saat harus memahami istilah ilmiah fisika dan kimia dalam karakter Hanzi.
“Dosen di sini menuntut presisi tinggi. Kami terbiasa bekerja keras karena perkembangan teknologi di laboratorium seringkali bergerak lebih cepat daripada buku teks yang ada,” tambahnya.
Sebagai mahasiswa yang telah mengenyam pendidikan mulai dari diploma (D3) hingga magister melalui beasiswa Chinese Government Scholarship, Apri berharap pemerintah Indonesia memiliki skema penempatan yang jelas bagi lulusan luar negeri.
Ia menekankan pentingnya wadah kolaborasi antara mahasiswa di luar negeri dengan peneliti di dalam negeri untuk memperkuat proses transfer teknologi. Apalagi, saat ini telah terjalin kerja sama antara CSU, Kementerian ESDM, dan perusahaan nikel CNGR untuk pelatihan teknis personel Indonesia di Morowali, Sulawesi Tengah.
Potensi besar ini turut diamini oleh Duta Besar RI untuk China dan Mongolia, Djauhari Oratmangun. Ia melihat peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia di China sebagai peluang emas untuk memperluas kerja sama pendidikan.
“Kerja sama ini perlu diiringi dengan pertukaran budaya. Salah satu langkah strategis yang kami dorong adalah pembukaan Rumah Budaya Indonesia di CSU sebagai pusat interaksi masyarakat kedua negara di Changsha,” pungkas Djauhari. (Amel)


Leave a Reply