KomdigiMedia.com, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menyambut baik langkah strategis pemerintah yang resmi menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 7 Menteri tentang Pedoman Pemanfaatan Teknologi Digital dan Kecerdasan Buatan (AI) di Dunia Pendidikan.
Lestari menegaskan bahwa meski kehadiran AI di sekolah tidak bisa dihindari, pemanfaatannya harus dikelola secara bijak agar tidak mengikis kemampuan berpikir kritis peserta didik.
“Pemanfaatan AI di dunia pendidikan harus dikelola dengan baik agar tidak menggantikan proses berpikir kritis, melainkan memperkuatnya,” ujar sosok yang akrab disapa Rerie ini dalam keterangan tertulisnya, (31/3/2026).
Pedoman yang ditandatangani oleh tujuh menteri di bawah koordinasi Menko PMK Pratikno ini mengatur penggunaan AI dari jenjang PAUD hingga Perguruan Tinggi. Kebijakan ini mencakup jalur pendidikan formal maupun informal guna melindungi siswa dari berbagai risiko digital.
Menurut Rerie, regulasi lintas kementerian ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun ekosistem pendidikan digital yang aman dan berkelanjutan di Indonesia.
Meski regulasi sudah tersedia, Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI mengingatkan bahwa kunci keberhasilan kebijakan ini terletak pada literasi digital dan etika penggunaan teknologi. Ia khawatir tanpa pemahaman yang benar, AI justru akan menciptakan ketergantungan.
“Literasi digital harus jadi prioritas. Tanpa itu, AI berpotensi menurunkan kualitas pembelajaran karena siswa hanya sekadar menyalin hasil teknologi,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa guru tetap memegang kendali utama dalam proses belajar mengajar di era digitalisasi ini.
- Guru sebagai fasilitator: Mengarahkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti proses belajar.
- Peningkatan kapasitas: Tenaga pendidik wajib menguasai teknologi agar mampu membimbing siswa secara tepat.
Sebagai penutup, politisi Partai NasDem ini meminta adanya evaluasi berkala terhadap pelaksanaan SKB tersebut. Ia berharap transformasi digital di sektor pendidikan dapat berjalan seimbang antara kecanggihan teknologi dengan penguatan karakter serta nalar peserta didik.
“Kita ingin menciptakan generasi yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga memiliki nalar yang tajam,” pungkasnya. (Amel)


Leave a Reply