KomdigiMedia.com, Jakarta – Peneliti forensik digital, Rismon Sianipar, secara mengejutkan mengubah pernyataannya terkait polemik ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi). Setelah sebelumnya gencar melayangkan tudingan palsu, Rismon kini menyatakan bahwa berdasarkan hasil kajian mendalamnya yang terbaru, ijazah tersebut adalah asli.
Pernyataan ini disampaikan Rismon usai bertemu dengan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, di Istana Wapres, Jakarta, Jumat (13/3/2026). Ia mengaku telah melakukan rekonstruksi dan uji coba selama tiga bulan terakhir untuk memastikan kebenaran tersebut.
“Iya, asli. Kenapa? Dengan kajian saya, makanya saya bilang, truth hurts, kebenaran itu menyakitkan. Tetapi lebih menyakitkan lagi kalau saya tidak mengungkapkannya,” ujar Rismon kepada awak media.
Penebusan Dosa Melalui Buku
Sebagai bentuk tanggung jawab atas kegaduhan yang telah terjadi, Rismon berencana merangkum seluruh hasil temuan finalnya ke dalam sebuah buku. Ia menyebut langkah ini sebagai bentuk “penebusan dosa” kepada keluarga besar Joko Widodo.
“Tahun 2026 semoga bisa selesai. Saya katakan kepada Mas Wapres, penebusan saya atas semua hiruk-pikuk ini akan saya tebus kepada keluarga terutama kepada Pak Joko Widodo,” tuturnya, (14/3).
Meski kini menuai hujatan dan dituding sebagai pengkhianat oleh pihak-pihak yang sebelumnya mendukung narasinya, Rismon mengaku tidak bergeming. Ia menegaskan bahwa integritas penelitiannya adalah prioritas utama.
Sebelumnya, Rismon Sianipar telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Ia dijerat UU ITE Pasal 32 dan Pasal 35 terkait manipulasi dokumen elektronik.
Sebagai langkah hukum lanjutan, Rismon telah menemui langsung Joko Widodo di kediamannya di Solo pada Kamis (12/3/2026) untuk meminta maaf secara pribadi. Pertemuan tersebut juga menjadi bagian dari upaya pengajuan restorative justice (RJ) dalam kasus dugaan pencemaran nama baik yang menjeratnya.
Wapres Gibran Rakabuming pun menyambut baik sikap Rismon. Dalam momen pertemuan tersebut, Gibran sempat merangkul Rismon dan menegaskan bahwa persoalan di antara mereka telah selesai. “Pokoknya kita saudara, sudah tidak ada apa-apa lagi,” kata Gibran. (Amel)


Leave a Reply