KomdigiMedia.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mendorong percepatan reformasi di sektor pariwisata nasional guna memitigasi dampak eskalasi konflik di Timur Tengah. Langkah ini krusial mengingat pariwisata telah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan kontribusi Rp945,7 triliun atau 3,97 persen dari total PDB pada tahun 2025.
Meski mencatatkan performa gemilang dengan raihan devisa sebesar USD18,91 miliar dari 15,39 juta wisatawan mancanegara, sektor ini kini dibayangi ancaman kerugian besar akibat gangguan konektivitas global.
“Indonesia perlu segera melakukan reformasi untuk memitigasi kerugian akibat krisis global, dan membangun fondasi pariwisata yang kompetitif, tangguh, dan berdaya saing tinggi di kancah internasional,” ujar Airlangga dalam Webinar Nasional bertajuk Tourism Under Fire, Senin (16/3/2026).
Ancaman Kerugian Devisa dan Gangguan Penerbangan
Data Kementerian Pariwisata memproyeksikan potensi kehilangan devisa hingga Rp184,8 miliar per hari jika dampak konflik tidak segera dimitigasi. Laporan InJourney Airports periode Februari hingga Maret 2026 menunjukkan gangguan pada 9 rute internasional di Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai telah menghambat mobilisasi lebih dari 47 ribu penumpang. Tantangan ini kian berat seiring dengan melonjaknya harga bahan bakar pesawat (avtur).
Empat Strategi Penyelamatan Pariwisata
Menghadapi situasi tersebut, Menko Airlangga memaparkan empat langkah strategis pemerintah:
- Perluasan Bebas Visa Kunjungan (BVK): Pemerintah mengidentifikasi 20 negara potensial untuk mendapatkan fasilitas BVK. Berdasarkan kajian, kebijakan ini terbukti mampu memacu pertumbuhan wisatawan hingga 15 persen per tahun.
- Penguatan Pasar Domestik: Mengadopsi konsep micro-tourism (destinasi jarak dekat) untuk memanfaatkan momentum libur Lebaran 2026. Pemerintah juga memberikan stimulus berupa diskon transportasi dan kebijakan Work From Anywhere (WFA).
- Branding Destinasi Aman dan Digital Nomad: Memperkuat citra Indonesia sebagai negara stabil serta menangkap peluang migrasi talenta digital di wilayah strategis seperti Jakarta, Kepulauan Riau, dan KEK Kura-Kura Bali.
- Optimasi Nilai Tukar: Memanfaatkan pelemahan nilai tukar sebagai daya tarik bagi wisatawan mancanegara untuk mendapatkan pengalaman mewah (high end) dengan harga terjangkau.
Airlangga menegaskan bahwa kolaborasi antar-sektor sangat diperlukan untuk menjaga resiliensi ekosistem pariwisata nasional di tengah dinamika geopolitik global.
“Mari kita pastikan pariwisata Indonesia tetap tangguh dan mampu beradaptasi menghadapi berbagai gejolak dunia,” pungkasnya, (17/3). (Amel)


Leave a Reply