KomdigiMedia.com, Ho Chi Minh City – Kota Ho Chi Minh kini berada di ambang transformasi besar dalam manajemen perkotaan. Menghadapi ledakan jumlah kendaraan dan kompleksitas lalu lintas, Kepolisian Kota Ho Chi Minh secara resmi mulai mengalihkan beban pengawasan dari tenaga manusia ke sistem kecerdasan buatan (AI) dan teknologi sensor pintar.

Berdasarkan data terbaru tahun 2025, integrasi teknologi ini telah membuahkan hasil signifikan. Sebanyak 176.792 kasus pelanggaran lalu lintas berhasil diproses melalui rekaman kamera pengawas dan laporan digital warga. Capaian ini menjadi bukti bahwa metode manajemen tradisional sudah tidak lagi memadai untuk mengimbangi dinamika kota yang tumbuh pesat.

Digitalisasi dan Pengetatan Izin Acara Publik

Salah satu sorotan utama dalam kebijakan baru ini adalah digitalisasi perizinan acara yang menggunakan ruang publik. Selama ini, pameran dan acara besar di jalur arteri seperti Jalan Le Loi sering menjadi biang kerumunan dan kemacetan parah.

Kepolisian Kota kini mengusulkan agar seluruh prosedur perizinan dilakukan secara digital melalui sistem yang terintegrasi.

“Manajemen, pemberian izin, dan pengaturan lalu lintas harus bertransformasi menjadi proses administratif digital yang transparan untuk mempersingkat waktu pemrosesan,” ungkap perwakilan Departemen Kepolisian Kota, (12/3/2026).

Kedepannya, acara luar ruangan akan diarahkan ke kawasan dengan infrastruktur tertutup yang lebih memadai, seperti Phu My Hung dan Sala, guna meminimalkan hambatan di pusat kota.

Implementasi “Cermin Digital” dan Teknologi Drone

Tidak hanya mengandalkan kamera statis, otoritas terkait kini mulai menerjunkan drone untuk memantau titik-titik krusial seperti terminal bus dan stasiun kereta api. Di sisi lain, Pusat Manajemen Lalu Lintas Perkotaan telah sukses menerapkan sistem “Cermin Digital” di rute Mai Chi Tho dan Vo Van Kiet.

Baca juga :  Pantau Mudik Real Time, Kakorlantas Kenalkan Command Center KM 29 yang Super Canggih

Hasilnya cukup impresif, volume lalu lintas di persimpangan rute tersebut tercatat meningkat hingga 18%. Teknologi ini bekerja dengan cara:

  • Analisis Real-Time: AI mempelajari kepadatan kendaraan melalui sensor.
  • Gelombang Hijau: Sistem secara otomatis mengatur durasi lampu lalu lintas jika volume kendaraan melebihi 60% kapasitas jalan.
  • Prediksi Kemacetan: AI menggabungkan data historis dan data terkini untuk memprediksi potensi kemacetan sebelum benar-benar terjadi.

Masa Depan: Integrasi Metro dan Bus

Ambisi Ho Chi Minh tidak berhenti pada kendaraan pribadi. Di masa depan, AI akan digunakan untuk menganalisis data penumpang dari tiket elektronik. Tujuannya adalah mengoptimalkan jadwal bus dan metro secara otomatis berdasarkan permintaan aktual masyarakat, sehingga waktu tunggu dapat dipangkas secara signifikan.

Meski teknologi menawarkan solusi cerdas, tantangan terbesar tetap ada pada pertumbuhan kendaraan pribadi yang masif. Pemerintah menekankan bahwa teknologi hanyalah alat bantu; keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada kesadaran masyarakat untuk beralih ke transportasi umum dan penyelesaian proyek infrastruktur yang tepat waktu. (Amel)